Menyambut Ramadhan dengan Hati Bersih ; Tradisi Antar Beras Masyarakat Rawang, Kota Sungai Penuh
Penulis : Dr. Jalwis, M.Ag Pemerhati Sosial Dalam menyambut bulan suci Ramadhan masyarakat Sungai Penuh dan Kerinci melakukan berbagai cara,...
![]() |
| Penulis : Dr. Jalwis, M.Ag Pemerhati Sosial |
Para ulama menegaskan bahwa kesiapan utama menyambut Ramadhan adalah kebersihan hati. Imam Al-Ghazali menyatakan bahwa “Hati adalah raja bagi anggota tubuh; jika hatinya baik, maka baiklah seluruh amalnya.” Karena itu, Ramadhan tidak cukup disambut dengan persiapan fisik, tetapi harus diawali dengan membersihkan hati dari dengki, kebencian, dan permusuhan. Sejalan dengan itu, Ibnu Rajab Al-Hanbali menekankan bahwa di antara amalan terbaik menjelang Ramadhan adalah memperbaiki hubungan dan saling memaafkan, karena hati yang bersih memudahkan seseorang meraih keberkahan ibadah.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam tradisi antar beras ke tuo jantan yang dilaksanakan masyarakat Rawang, Kota Sungai Penuh. Beras yang diantarkan melambangkan keikhlasan dan keberkahan, sementara silaturrahmi yang terbangun menjadi sarana membersihkan hati. Tradisi ini menjadi ruang adat untuk menghilangkan permusuhan dan meredam perdebatan, terhadap berbagai problem sosial, baik yang timbul akibat perbedaan pilihan dan pandangan lainnya. Di sinilah adat berperan sebagai penyejuk, pengingat bahwa persaudaraan lebih penting daripada ego dan perbedaan pilihan.
Sosok tuo jantan sendiri bukan sekadar penerima beras, tetapi simbol kebijaksanaan dan pemersatu masyarakat. Kehadirannya menegaskan bahwa adat tetap relevan sebagai pedoman kehidupan sosial, sekaligus menanamkan nilai-nilai persatuan, hormat, dan tanggung jawab bersama. Melalui tradisi ini, masyarakat Rawang menegaskan kembali bahwa menyambut Ramadhan adalah proses membersihkan hati, menyelaraskan hubungan dengan sesama, dan menyiapkan jiwa untuk menerima rahmat Tuhan.
Dengan demikian, tradisi antar beras ke tuo jantan bukan sekadar adat, tetapi wujud nyata pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sosial. Adat dan agama saling menguatkan dalam menanamkan nilai kebersihan hati, persaudaraan, dan persatuan sebagai bekal menyambut Ramadhan dengan jiwa yang tenang dan ikhlas. Marhaban Ya Ramadhan……
